
Jum'at, 27 Maret 2009 10:09
Harga minyak mentah rebound (berbalik naik) pada Kamis waktu setempat, melewati US$54 per barel dalam tandemnya dengan kenaikan di pasar saham AS, dipicu oleh harapan penurunan ekonomi di negara konsumen energi terbesar dunia itu kemungkinan berkurang, kata para dealer.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman pada Mei, naik US$1,57 dari penutupan Rabu menjadi US$54,34 per barel.
Di London, minyak mentah jenis Brent North Sea untuk pengiriman Mei, naik US$1,71 menjadi US$53,46 per barel.
"Faktor utama yang mendorong kenaikan adalah menguatnya pasar saham," kata analis independen Ellis Eckland, karena saham AS melompat pada Kamis di tengah harapan para investor bahwa resesi AS kemungkinan berkurang.
"Itu memungkinkan untuk bertahan di atas US$50 sepanjang pasar saham dapat terus menguat, pasar minyak akan bertahan di atas US$50 bahkan ke depan bisa menguat hingga US$60," kata dia.
Data revisi Kamis, menunjukkan, langkah penurunan curam 6,3% dalam produksi ekonomi AS pada kuartal keempat 2008, lebih rendah dari yang diantisipasi para analis turun 6,6%.
Data memperlihatkan produksi ekonomi untuk awal 2009 tidak akan berlaku untuk bulan-bulan lainnya, namun beberapa analis mengatakan sinyal sedang muncul pada sedikitnya beberapa wilayah ekonomi yang telah mencapai bagian paling bawah, dan dapat siap untuk rebound.
"Pasar minyak mulai lebih fokus pada potensi permintaan untuk kenaikan musim panas ini," kata Eckland.
Harga minyak telah turun dalam perdagangan di AS Rabu, karena pasar mencerna berita bahwa cadangan minyak mentah AS pekan lalu melonjak lebih besar dari yang diperkirakan, mengindikasikan melemahnya permintaan di Amerika Serikat, ekonomi terbesar dunia.
Departemen Energi AS (DoE) mengatakan bahwa cadangan minyak mentah AS meningkat 3,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Maret, terhadap ekspektasi pasar untuk kenaikan lebih kecil 1,3 juta barel.
"Pasar mengantisipasi permintaan lebih baik untuk minyak. Setidaknya, mereka tidak melihat permintaan terhuyung-huyung," kata Bart Melek, ahli strategi komoditas global dari BMO Capital Markets.
Sementara Presiden Uni Emirat Arab mengatakan dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan Kamis, bahwa harga minyak US$70-75 per barel akan menjadi "adil."
Rekor harga minyak tertinggi di atas US$147 per barel tercapai pada Juli 2008 adalah "tidak realistis dalam pandangan kami," kata Sheikh Khalifa bin Zayed al-Nahyan, seperti dikutip oleh kantor berita resmi WAM.
Harga sekarang terlalu rendah, tambah dia, "tentu negara-negara produsen, pendapatannya kurang memadai, sehingga tidak dapat membangun ladang-ladang minyak mereka."
"Level lemah" saat ini di kisaran US$50 melukai siapapun dan dalam pandangan kami, sebuah harga yang adil berada pada kisaran US$70-75 per barel."
UEA adalah salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan memiliki cadangan minyak terbesar kelima di dunia.
Harga minyak telah melonjak pada awal pekan, didukung rencana pemerintah AS untuk membersihkan bank-bank sakit dari aset-aset bermasalah mereka untuk membantu memicu pemulihan ekonomi.
Departemen Keuangan AS mengungkapkan rencana yang sudah lama ditunggu pada Senin, untuk membeli aset-aset bermasalah yang menyumbat sistem keuangan dengan menggunakan dana pemerintah, pinjaman kepada para investor dan jaminan yang direncanakan untuk menarik modal swasta. (kpl/cax)
-KapanLagi.com-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar